Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Minggu, 10 Juni 2012

Sepi yang ramai

"Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkan kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan."

 
Hari ini, waktunya mengembalikan buku 'Hujan dan Teduh' karya Wulan Dewatra ke perpustakaan. Buku yang kupinjam sejak dua minggu yang lalu, tapi baru sempat kubaca semalam hingga pukul 02.30 dini hari.  Tentu saja kini aku sangat mengantuk, tapi kupaksakan bangun karena beberapa pekerjaan yang terbengkalai tak mungkin kutunda lagi. Sementara di luar, langit masih kelabu, rintik pun masih setia. Si hitamku tak ada, berpayung sajakah menuju kesana? Tiba-tiba saja aku menghayal andai saja ada jalan pintas di hutan sebelah rumahku menuju perpustakaan, tentu aku dengan riang akan berpayung di bawah rintik hujan menuju ke sana.



Aku tak tahu, mengapa dulu kami memutuskan menempati rumah dinas yang ini. Rumah dinas yang terletak di pinggir hutan tak jauh dari tepi laut.  Sebenarnya letaknya tak jauh dari pusat kota komplek PT. Badak. Buktinya bila di Town Center ada acara panggung gembira, dentuman musik dan suara penyanyinya leluasa sampai di telinga penghuni rumah ini. Tapi sayang, jarak yang sebenarnya dekat terhalang oleh hutan alam yang membentang di tengah komplek. Sialnya, rumahku tepat berada di sisi hutan bagian tengah. Untuk mencapai Town Center tentu saja kami harus menyusuri jalan aspal yang memutar mengelilingi hutan, entah itu  lewat jalan sebelah kanan melalui PC3 ataupun jalan sebelah kiri melalui kilang menuju Town Center. Semua sama jauhnya.

Tak ada kendaraan umum yang beroperasi. Bis shuttle perusahaan yang dahulu beroperasi setiap setengah jam sekali pun kini ditiadakan. Hanya ada bis sekolah yang beroperasi pagi saat anak-anak berangkat sekolah, dan siang nanti ketika mereka pulang. Untuk urusan lain, silahkan berusaha sendiri, naik mobil pribadi, bermotor ria, bersepeda atau justru berjalan kaki.

Tapi terus terang aku suka tinggal di rumah dinas yang ini. Rumahnya lebih besar, pekarangannya luas. Udaranya bersih. Setiap hari masih terdengar kicauan burung menyambut pagi, teriakan gagak yang berkoak-koak serak, juga sahut-sahutannya si uwa-uwa. Jarang sekali kendaraan melintas. Kalaupun ada, pasti kendaraan tetangga sebelah kanan atau kiri, atau mobil patroli Security perusahaan yang setiap hari harus menekan tombol di pagar pinggir hutan sebagai tanda mereka sudah patroli sampai ke sini. Atau kalaupun benar-benar ada yang lewat, paling-paling cuma orang kesasar yang mencari alamat. Bisa dibayangkan betapa terpencil dan sepinya tempat tinggalku ini.

Suatu ketika pernah aku menyatakan perasaanku tentang sepinya daerah ini pada seorang teman yang pernah tinggal di sini namun sekarang dia sudah pindah ke PC3.

"Sepi banget ya daerah sini, apalagi kalau malam..." ujarku

"Ah, siapa bilang? Belum tahu ya kalau di sini ramai?" katanya sambil senyum menggoda. Aku tak mengerti maksudnya.

"Ramai sama penghuni hutan?" tanyaku. Yang kumaksud tentu saja pasukan monyet yang setiap pagi berkeliaran mencari-cari makanan di tempat sampah atau memetik buah yang tumbuh di pekarangan rumah. Atau boleh jadi rombongan babi atau ular yang memang sesekali menampakkan diri.

"Ng.. ramai sama anu, apalagi kalau malam begini.. aih, merinding saya!" kata temanku itu sambil meraba tengkuknya.

Ups, tunggu dulu! Memangnya pasukan monyet berkeliaran juga ketika malam? Tak mungkin! Lalu siapa dong yang dimaksud berkeliaran di sekitar sini? Aku bertanya-tanya. Usut punya usut, ternyata beberapa teman menceritakan hal yang sama. Ada mahluk lain yang senang menampakkan diri. Kadang suara riuh anak-anak bermain bola tepat ketika mahgrib menjelang, atau gangguan-gangguan lain yang pernah dirasakan mereka.

Oh My God, masih beranikah aku berandai-andai tentang jalan pintas yang membentang membelah hutan di sebelah rumahku? Aku jadi bergidik. Sumpah, aku tak ingin bertemu mereka, apalagi sampai diganggu. ENGGAK MAU!!!!


2 komentar:

  1. Jadi ingat tempat tinggal saya dulu di Riau mbak, berbatasan dengan hutan :)
    Perasaan merinding? sering. Bunyi2an, sering padahal sepi. Pernah liat kawanan babi hutan, kawanan kera mah sehari2, ular, kalanjengking, biawak, burung enggang. Seru juga :)

    BalasHapus
  2. Eh, ada Bundanya Fiqthiya, terimakasih sudah mampir. Dirimu orang pertama yang mengomentari tulisanku...
    Ini masih belajar nulis, Bun. Masih pula belajar mengatasi kegaptekan di dunia blog *wis, terlalu tua untuk memulai, tapi tak mengapalah.. terkompori sama tulisan2 Bundanya Fiqthiya. :)

    Seru memang, di saat orang kota sudah kehilangan segala sesuatu yang alami, hutan dan habitatnya. Eh, alhamdulillah saya masih menikmatinya sehari-hari. Itu sebabnya mengapa saya tidak betah bila cuti berlama-lama di Bandung atau kota besar lainnya. Macet dan polusi udara karena sesaknya kendaraan, 2 hal yang tak pernah saya jumpai di Bontang :)

    BalasHapus