Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Jumat, 03 Februari 2012

Topi, topi saya!

Bertahun-tahun tinggal di komplek perumahan PT. Badak yang aman tentram gemah ripah loh jinawi, sungguh saya tak pernah merasa kecewa pada sikap Satuan Pengaman yang berjaga di Pos-pos gerbang komplek.

Kalau cuma ditanya, “Mau kemana, Bu?” saya anggap itu pertanyaan biasa yang cukup saya jawab dengan sopan tanpa harus merasa berang (cie.. sok dewasa). Begitupun bila mereka bertanya soal kelengkapan SIM dan STNK, cukup tunjukkan saja 2 mahluk yg selalu berada berdampingan dengan KTP di dalam dompetku. Beres kan?



Berbeda dengan kisah beberapa teman yang pernah mengalami hal tak menyenangkan. Contohnya seorang teman yang tak boleh masuk lewat pos Kampung Baru sehingga harus memutar lewat daerah Pisangan. Atau pertanyaan pak penjaga pada barang-barang bawaan yang ada di dalam mobil *biasanya ini terjadi di awal bulan dimana kebanyakan ibu belanja barang bulanan. Masa sih mau disebutkan satu persatu. Rese ya? Kata temanku itu.

Ada pula kisah teman-teman di luar komplek yang jadi enggan berkunjung ke rumah karena mendapat sambutan yang kurang ramah dari Pak Security ketika mau masuk komplek, ditambah lagi dengan kalimat Pak Security, “Mendingan ibu nggak usah masuk komplek kalau nggak tau rumahnya.” Duh, sebegitu kejamnyakah dikau pak security? Pikir saya *dulu :D

Pagi tadi, sepulang saya dari latihan tenis saya berencana menjemput Dhiya di arena outbond TK Baiturrahman tanpa pulang ke rumah dulu. Masih mengenakan kostum olahraga lengkap dengan topi lebar saya duduk menyetir dengan kecepatan di bawah 40km/jam. Saya susuri jalanan yang mulus dan lengang tanpa berniat menambah kecepatan. Kapok euy, gara-gara beberapa waktu yang lalu saya kena ‘speed gun’. Tak mau saya mendapat surat cinta apalagi menyusahkan suami dengan pelanggaran yang saya lakukan (cie, tobat ceritanya).

Di pintu pos SD Vidatra, seperti biasa saya melambatkan kendaraan, berhenti dan membiarkan Pak Security membuka pintu belakang mobil, memeriksa dan menutupnya kembali dibarengi ucapan, “Silahkan Bu.”

Saya mengangguk dan memandang ke sebelah kanan. Ada dua orang berdiri di situ selain petugas yang membuka pintu mobil saya tadi. Yang seorang mengenakan seragam polisi. Tiba-tiba saya mendengar salah seorang berkata, “Sudah di dalam mobil kok masih pakai topi. Panas apa?!” Ada nada sinis yang saya tangkap ketika tanpa sengaja saya memandang dan mendengar dari kaca jendela yang sedikit terbuka.

Mulanya saya tak menyangka kalau hal itu ditujukan pada saya, tapi begitu saya memandang cermin, astaga petugas itu ngomongin saya! Hati saya jadi panas, tapi saya mencoba menenangkan diri dan terus melaju menuju TK Baiturrahman.

Sepanjang jalan saya berpikir dan merasa terganggu dengan omongan tadi, ingin rasanya menegur petugas tadi, tapi kok ya saya takut tak dapat mengendalikan diri dan malah marah-marah tak menentu. Bisa-bisa malah ramai nanti. Kan malu kalau sampai seperti itu. Tapi, apa hak dia mengomentari penampilan saya dengan nada sinis? Saya nggak suka!

Di perjalanan pulang berkali-kali saya menarik napas dan berucap istighfar, sampai Dhiya yang duduk di sebelah bertanya, “Umi ngantuk?” *Biasanya, setiap saya menguap ketika menyetir saya mengucapkan lafaz astagfirullah. Dan itu ternyata terekam oleh Dhiya.

“Nggak sayang,” jawabku, sementara hati berdebar antara berniat menegur atau tidak ya pada petugas tadi. Mobil melaju dan tak lama tiba di Pos SD. Pak Security tersenyum ramah dan membuka pintu mobil. Ketika ia menutup pintu itulah saya memberanikan membuka kaca jendela dan berkata, “Pak, memang kenapa kalau saya pakai topi? Topi, topi saya. Mobil, mobil saya. Apa saya melanggar peraturan?”

“Lho, ada apa Bu?” tanya dia kaget.

“Itu, tadi waktu saya lewat, salah seorang dari kalian, entah yang mana, yang berdiri berdua di situ, yang satu pakai seragam Polisi, yang ngomongin saya pakai topi.”

“Wah, bukan saya Bu!”

“Yah, tolong sampaikan saja, topi topi saya kok. Memang kenapa?” *rada esmosi nih. Seorang petugas yang lain bertanya dan mendekat. Tapi Security yang membuka pintu mobil saya barusan langsung berkata, “Oh.. kalau begitu maafkan ya, Bu. Silahkan ibu melanjutkan perjalanan,” katanya dengan ramah.

Kalau sudah begini gak tega juga mau ngotot membahas topi. Akhirnya saya pun berkata, “Yah, maafkan juga kalau saya protes begini. Yang jelas tidak semua orang suka kalau diomongin seperti itu.”

Saya melaju kembali dengan perasaan lega karena sudah mengeluarkan uneg-uneg di hati. Tiba-tiba, “Memang kenapa? Topi, topi saya. Mobil, mobil saya. Memangnya saya melanggar peraturan?” kata Dhiya menirukan ucapan saya. Astagaaaaa... saya lupa, ada Dhiya di sebelah yang memperhatikan semua tingkah saya. Waduw! Malu deh diolokin Dhiya seperti itu. Jadi ketahuan kan kalau uminya gampang tersulut hahaha. Ampyun dweh!

*catatan kecil di 3 Februari 2012, di tempat tinggalku yang terletak di tepi hutan tak jauh dari tepi laut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar