Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Jumat, 03 Februari 2012

Topi, topi saya!

Bertahun-tahun tinggal di komplek perumahan PT. Badak yang aman tentram gemah ripah loh jinawi, sungguh saya tak pernah merasa kecewa pada sikap Satuan Pengaman yang berjaga di Pos-pos gerbang komplek.

Kalau cuma ditanya, “Mau kemana, Bu?” saya anggap itu pertanyaan biasa yang cukup saya jawab dengan sopan tanpa harus merasa berang (cie.. sok dewasa). Begitupun bila mereka bertanya soal kelengkapan SIM dan STNK, cukup tunjukkan saja 2 mahluk yg selalu berada berdampingan dengan KTP di dalam dompetku. Beres kan?

Sabtu, 31 Desember 2011

Bacaanku : Rembulan tenggelam di wajahmu

"Rembulan tenggelam di wajahmu" - dunia 'fantasi' tere-liye tentang perjalanan hidup. Disini hanya ada satu rumus : semua urusan adalah sederhana.


Ini kali pertama aku membaca karangan tere-liye. Buku setebal 426 halaman tanpa biodata penulisnya. Tak ada kata pengantar, tak ada daftar isi, hanya sebuah kalimat di hal. iii:

Minggu, 11 Desember 2011

Rinduku terobati disini

Aku, lahir dan dibesarkan di kota Cimahi puluhan tahun yang lalu. Kota kecil yang saat itu sawahnya masih menghampar luas di sekeliling asrama TNI Pusdik Pom tempat kami tinggal. Genta kerbau yang membajak sawah, panen padi dan juga riuhnya rombongan bebek berbaris rapi masih terekam indah dalam benakku. Sayang, aku tak pernah menyaksikan lagi pemandangan seperti itu setelah aku pindah ke Bontang tahun 1989. Apalagi untuk merasakan sensasi terbenamnya kaki telanjang yang menjejak ke dalam lumpur sawah sambil memunguti tutut (keong kecil) setiap musim tanam hampir tiba, tak pernah lagi! Kota pesisir ini hanya menyajikan pantai, tambak, bukit-bukit dengan hutannya yang mulai menipis.

Rabu, 23 November 2011

Rabu Pagi Yang Basah

Dingin menggigit kulit. Sejak semalam hujan deras mengguyur Bontang. Pagi pun berselimut mendung. Mau tak mau pekerjaan pagi ini bertambah, berkeliling mengantar satu-persatu penghuni rumah. Ketika hanya ada satu mobil di garasi rumah, sementara di tempat tinggal kami tak ada angkutan umum yang lewat, maka mobil akan sangat berguna di pagi yang basah seperti ini.

Minggu, 06 November 2011

Pernah kubayangkan...

Ketika memberinya nama BAGAS LANGLANG BUANA, seuntai doa terselip semoga kelak ia menjadi insan mandiri yang kuat di mana pun ia berada. Terbang, terbanglah jauh mengelilingi dunia, anakku. Bukankan di belahan bumi manapun adalah bumi Allah juga. Aku kan bangga...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Akhir yang berbeda

Dia datang dengan penampilan paling sederhana, kaos bola dan sandal jepit. Dia yang baru tamat SMEA sebulan sebelumnya, berharap bisa tinggal di rumah kami. Usianya masih belasan tahun, hanya terpaut setahun di atas usia anakku yang sulung. Tentu saja kami tak keberatan, dengan syarat ia bisa mematuhi semua peraturan yang telah kami sepakati bersama.

Selasa, 25 Oktober 2011

Bagasku Pulang

Lewat tengah malam waktu Indonesia Bagian Bontang. SMS dari anakku, "Adek sudah sampai di Ramayana."

Hari ini Bagas pulang dari turnament sepakbola kelompok umur 15 dalam rangka Hari Olahraga Nasional. Pertandingannya diadakan di lapangan C Panahan Gelora Bung Karno Jakarta. Team SSB Kompak Bontang terpilih mewakili Kaltim dalam ajang memperebutkan piala MENPORA ini.

Penerbangan Jkt-Bpp dilanjutkan perjalanan darat Bpp-Btg yg memakan waktu 5 jam membuat kami menunggu sampai lewat tengah malam untuk menjemputnya.